Stimulus pemerintah bisa jadi kunci perbaikan kinerja Ramayana (RALS) ke depan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah Indonesia terus mengupayakan daya beli masyarakat agar bisa kembali pulih di tengah situasi saat ini. Berbagai stimulus pun digelontorkan. Teranyar adalah pemberian gaji tambahan sebesar Rp 600.000 per bulan ke 15,7 juta pekerja selama empat bulan sejak September 2020.

PT Ramayana Lestari Tbk (RALS) sebagai salah satu pemain toko ritel disebut bisa mendapatkan sentimen positif dari kebijakan tersebut. Hal ini diungkapkan oleh analis RHB Sekuritas Vanessa Karmajaya. Menurutnya, daya beli masyarakat, khususnya kelompok low income bisa sedikit meningkat lewat stimulus tersebut.

Dengan RALS yang punya target market kelompok low end segmen, di mana segmen ini cukup sensitif terhadap masalah penurunan dan kenaikan daya beli. Selain itu, RALS juga cukup bergantung pada masa lebaran untuk penjualan mereka dan lebaran tahun ini tidak memberi dampak positif pada kinerja RALS.


Baca Juga: Intip rekomendasi saham RALS, APLN, dan UNVR untuk Jumat (9/10)

“Oleh sebab itu, subsidi dari pemerintah kali ini bisa mengakselerasi daya beli masyarakat kelompok low-end. Pada akhirnya diharapkan ini bisa jadi katalis positif untuk RALS ke depan,” ungkap Vanessa kepada Kontan.co.id, Senin (12/10).

Tapi, Vanessa menyebut katalis positif tersebut juga bergantung pada perkembangan kasus positif Covid-19 ke depan. Selama kasus positif belum berkurang, kecil kemungkinan daya beli masyarakat bisa membaik karena akan lebih memprioritaskan kebutuhan sehari-hari ketimbang keperluan diskresioner. 

Sementara analis Indo Premier Sekuritas Kevie Aditya dan Elbert Setiadharma dalam risetnya pada 26 Agustus 2020 menuliskan, stimulus tersebut memang menjadi katalis positif bagi RALS pada paruh kedua tahun ini. Namun, perbaikan outlook pada semester II-2020 disebut keduanya sudah cenderung price-in pada harga RALS saat ini.

“Terlepas dari kemungkinan perbaikan outlook pada paruh kedua, dalam tiga tahun terakhir nyatanya kinerja paruh kedua hanya memberi sumbangsih 39% dari seluruh pendapatan dan 13% dari laba bersih. Untuk saat ini, kami mempertahankan proyeksi penurunan 50% penjualan seiring dengan hilangnya momen “kembali ke sekolah” akibat masih berlangsungnya proses belajar online,” tulis Kevie dan Elbert.

Editor: Anna Suci Perwitasari