Strategi Hadapi Peluang dan Tantangan Industri Properti di 2023



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor properti terutama segmen landed house terus melanjutkan pemulihan tahun ini. Penjualan industri properti semester I 2022 tumbuh 2,96% secara year on year (YoY). Pengamat memprediksi tahun 2023 merupakan waktu yang tepat untuk berinvestasi di sektor ini.

Presiden Director ERA Indonesia Darmadi Darmawangsa optimistis sektor properti akan tumbuh positif tahun depan. Namun, ia mengingatkan bahwa tantangannya masih besar.  

“Krisis yang kita alami saat ini membuat pengusaha jangan argue with reality karena tantangan akan selalu ada. Namun, kenyataan harus dihadapi dengan kreativitas. Developer yang lebih cepat mengambil langkah ke depan yang akan tumbuh baik,” kata Darmadi dalam paparan virtualnya dikutip Kamis (1/12).


Menurutnya, pengembang harus mulai menyadari pada tahun depan merupakan kondisi sunrise sehingga peluangnya besar. Ia menilai kenaikan harga material di tahun depan mengindikasikan kenaikan harga properti.

Baca Juga: Sektor Perumahan Tak Dapat Perpanjangan Restrukturisasi Covid-19, Ini Kata Apersi

Sehingga pengembang harus pintar-pintar mencari posisi awal. Inflasi akan mendorong peningkatan harga material, developer akan menaikan harganya dan ini waktu yang pas untuk para investor.

Salah satu indikasi kenaikan harga properti menurut Darmadi adalah kenaikan harga komoditas yang mulai tidak terkendali.

Sementara bagi konsumen, saat ini merupakan waktu yang tepat untuk bisa memiliki properti dengan harga murah. CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengatakan, saat ini kenaikan suku bunga KPR masih masih akal. Meski suku bunga acuan BI sudah naik kee level 5,25%, namun angka tersebut bukan kenaikan tertinggi.

“Fenomena turunnya BI Rate pada tahun 2020-2021 lalu memberi efek kenaikan yang drastis saat ini, padahal kita juga pernah turun sekali di tahun 2020-2021, bahkan itu terendah sepanjang sejarah” terang Ali dalam kesempatan yang sama.

Senada, Darmadi juga melihat suku bunga KPR saat ini masih reasonable dan bukan lagi masalah. Apalagi, banyak juga bank yang kreatif memberikan package dengan fix rate hingga 9 tahun dan banyak lagi.

Begitu pula dengan pendekatan terhadap generasi milenials cukup berbeda terhadap properti. Munculnya tren Fear of Missing Out (FOMO) membuat generasi ini menunda pembelian properti padahal tanpa mereka sadari harga properti terus meningkat.

Baca Juga: Rumah Cristiano Ronaldo, Punya 7 Properti Seharga Rp 267,29 Miliar

Editor: Yudho Winarto