Syarat pabrik baterai mobil listrik, 60% nikel harus diolah di Indonesia



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia sedang menjaring investasi asing untuk membangun pabrik baterai kendaraan listrik. Sejumlah kerjasama tengah dijajaki oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang nantinya akan tergabung dalam holding baterai Indonesia.

Kesepakatan awal sudah diteken antara PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dengan konsorsium CATL, perusahaan baterai terkemuka asal China. Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi (Kemenko Marves) Septian Hario Seto mengungkapkan, dalam kerjasama tersebut pihak Indonesia mengajukan syarat agar 60% dari nikel yang akan dipasok dapat diproses menjadi baterai di Indonesia.

Kata dia, pihak CATL pun merespons syarat tersebut dan berkomitmen untuk mengolah 60% nikel yang dipasok Antam di dalam negeri. Negosiasi tahap lanjut pun terus dijalankan oleh Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin bersama Antam.


Rencananya, baterai kendaraan listrik ini pun bisa diproduksi mulai tahun 2024. "60% dari nikel yang mereka peroleh harus diproses menjadi baterai di Indonesia. Ini adalah permintaan kita. Jadi kita nggak mau mereka dapat nikel kita, tapi proses baterainya di luar negeri," ungkap Septian dalam acara Indonesia Mining Outlook, Selasa (15/12).

Baca Juga: Diminta investasi oleh Jokowi, Elon Musk akan kirim tim ke Indonesia tahun depan

Lebih lanjut, Septian mengungkapkan, beberapa waktu lalu di Yunan, pihaknya juga sudah melakukan pembicaraan untuk meminta pabrikan mobil listrik asal China bisa berinvestasi di Indonesia. Targetnya, ada investasi yang masuk sekitar US$ 5 miliar pada tahun 2024.

"Beberapa waktu lalu juga saya bertemu mereka di Yunan, mereka juga berkomitmen membawa pabrikan mobil listriknya. Targetnya 2024 mereka investasi kira kira US$ 5 miliar," terang Septian.

Selain dengan konsorsium CATL, saat ini anggota holding baterai BUMN juga sedang menjajaki kerjasama dengan LG Chem Ltd dari Korea Selatan. Selain itu, pemerintah Indonesia juga sedang mendekati produsen baterai dan mobil listrik terkemuka asal Amerika Serikat, Tesla.

"CATL dan LG Chem dua perusahaan teknologi lithium baterai paling advanced di dunia, selain Tesla. Jadi kalau bisa mendapatkan tiga nama itu masuk di Indonesia, mereka bikin pabrik mobil listrik, ini langkah yang sangat baik," ujar Septian.

Dalam pemberitaan Kontan.co.id sebelumnya, CEO MIND ID Orias Petrus Moedak mengatakan, Indonesia Battery Holding (IBH) akan menggarap industri baterai kendaraan listrik secara terintegrasi dari hulu hingga ke hilir. IBH nantinya terdiri dari PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), holding pertambangan BUMN Inalum (MIND ID), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

Anggota holding baterai pun terbuka untuk membentuk joint venture (JV) atau menggandeng mitra  dari dalam negeri maupun asing, pada setiap rantai bisnis (value chain) industri baterai.  "Kami terbuka untuk mitra domestik maupun asing masuk ke dalam JV, yang dapat dibentuk dengan mitra pada setiap value chain yang terintegrasi sejak tambang sampai baterai," terang Orias.

Baca Juga: Tesla berniat berinvestasi di Indonesia, begini prospek pasar mobil listrik

Editor: Khomarul Hidayat