Tahun ini, perbankan akan agresif berburu kredit sindikasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah bank optimistis prospek pembiayaan proyek bernilai jumbo dengan skema sindikasi masih akan menjanjikan pada tahun 2020. Oleh karena itu, bank masih akan aktif melakukan penyaluran kredit secara patungan tersebut.

Kredit sindikasi keuntungan bagi bank. Selain bisa berbagi risiko dengan bank lain dalam melakukan pembiayaan proyek besar, juga sekaligus membawa keuntungan lain yakni menghasilkan pendapatan berbasis komisi atau fee based income.

Meskipun optimistis prospeknya menjanjikan, namun sebagian besar bank tidak mematok target secara rinci untuk pertumbuhan sindikasi tahun ini. Sementara pada tahun 2019, penyaluran kredit sindikasi masih ramai walaupun tidak sekencang tahun sebelumnya.


Baca Juga: Ini Alasan Perbankan Memandang Optimistis Penyaluran Kredit Sindikasi di Tahun Ini premium

PT Bank Mandiri Tbk yang menjadi jawara penyalur kredit sindikasi pada tahun 2019 melihat prospek sindikasi masih cerah karena ada beberapa proyek yang akan diteken tahun ini sebagai hasil finalisasi dari proyek tahun lalu.

"Selain itu terdapat beberapa proyek baru untuk mendukung pembangunan infrastruktur pemerintah dan juga proyek-proyek yang merupakan deal berulang dari tahun-tahun sebelumnya. Dengan iklim investasi dan iklim ekonomi yang semakin menjanjikan diharapkan transaksi sindikasi akan semakin meningkat," kata Rohan Hafas, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri kepada Kontan.co.id, Jumat (10/1).

Tahun ini, Bank Mandiri memang tidak agresif memasang target kredit korporasi. Segmen ini hanya ditargetkan tumbuh single digit dan akan mengandalkan segem ritel sebagai penopang pertumbuhan kredit. 

Untuk mendorong kredit korporasi, bank pelat merah ini akan selalu mendukung proyek infrastruktur pemerintah.

Selain itu, tambah Rohan, Bank Mandiri juga akan terus mendukung pengembangan dan ekspansi bisnis dari nasabah-nasabah korporasi yang sebagian dari proyek tersebut tentunya akan dibiayai melalui skema sindikasi dengan bank lain.

Editor: Herlina Kartika Dewi