Tahun ini, Waskita Karya (WKST) yakin dapat memperbaiki kinerja



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Salah satu emiten konstruktsi plat merah PT Waskita Karya (Persero) Tbk belakangan menjadi sorotan. Kinerja keuangan yang berbalik rugi ditambah dengan beban utang yang tinggi pada tahun lalu menandakan suramnya kinerja emiten bersandi WSKT di Bursa Efek Indonesia itu.

Berdasarkan laporan keuangan tahun 2020 lalu, kerugian bersih yang ditanggung WSKT menyentuh Rp 7,38 triliun. Padahal setahun sebelumnya masih mampu mencetak laba sebesar Rp 938,14 miliar. Kerugian itu seiring dengan anjloknya pendapatan WSKT hingga 48,42% menjadi Rp 16,19 triliun.

Presiden Direktur Waskita Karya Destiawan Soewardjono menyampaikan, penurunan kinerja keuangan WSKT juga tak lepas dari peningkatan beban pinjaman investasi jalan tol. Selain itu, terjadi penurunan produktifitas proyek serta beban operasi yang cukup besar akibat pandemi covid-19.


Bertambahnya jumlah ruas tol milik Waskita yang beroperasi justru menambah beban pinjaman pada tahun lalu, yang mencapai Rp 4,74 triliun atau melonjak 31% dibandingkan tahun 2019.

Faktor lainnya, proses divestasi yang telah direncanakan oleh Waskita pun tertunda pelaksanaannya akibat pandemi covid-19. Dari 5 ruas yang ditargetkan untuk dapat dilepas, hanya divestasi 1 ruas yang dapat terealisasi.

Dari sisi produktifitas, Destiawan menggambarkan, rasio order book burn rate to sales, hanya mencapai 24,6%. Capaian tersebut jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2019 dimana rasio burn rate dapat mencapai 35%. “Penurunan produktifitas secara langsung berdampak pada seluruh kinerja keuangan perusahaan,” kata Destiawan yang menjawab melalui keterangan tertulis kepada Kontan.co.id, Minggu (11/4).

Dari sisi beban operasi, pada tahun lalu Waskita mencatatkan Rp 19,87 triliun atau 123% dari capaian pendapatan usaha pada periode 2020.  Hal tersebut disebabkan oleh kenaikan beban bahan baku dan beban overhead akibat pandemi, serta adanya beberapa klasifikasi ulang dalam pos laba rugi.

Adapun, segmen bisnis jasa konstruksi tercatat menyumbang 90% dari total pendapatan Waskita di 2020. Segmen tersebut mencatatkan pendapatan sebesar Rp14,5 Triliun dengan keuntungan bruto sebesar Rp1,17 Triliun atau rata rata margin laba bruto sebesar 8%.

“Pada lini bisnis konstruksi yang menjadi core compentecy, Waskita masih sangat kuat. Ditambah dengan transformasi yang sedang kami lakukan, ke depan kami yakin kami akan jadi lebih efisien sehingga keunggulan kompetitif kami juga meningkat," sebut Destiawan.

Dia optimistis, bisnis konstruksi akan dapat menjadi katalis turnaround kinerja Waskita. Keyakinan itu didasari oleh beberapa faktor seperti perolehan nilai kontrak baru, lini bisnis Waskita yang terintegrasi, dan transformasi digital yang telah diinisiasi.

Editor: Handoyo .