Tak lagi defisit, ini PR BPJS Kesehatan tahun 2021 menurut YLKI



KONTAN.CO.ID - Jakarta. BPJS Kesehatan memberikan kabar baik pada awal tahun 2021 ini. BPJS Kesehatan berhasil lepas dari defisit keuangan untuk pertama kali. Namun, BPJS Kesehatan masih memiliki pekerjaan rumah yang harus dilakukan pada tahun ini.

Pada tahun 2020, BPJS Kesehatan mencatatkan surplus arus kas Rp 18,7 triliun. Pada tahun-tahun sebelumnya, BPJS Kesehatan selalu mengalami defisit keuangan.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menyatakan keberhasilan BPJS Kesehatan mencatat surplus keuangan adalah prestasi baik. Meski begitu, dia pun memberikan sejumlah catatan kepada BPJS Kesehatan.


Pertama, dia berpendapat bahwa surplus arus kas BPJS Kesehatan ini harus dilihat apakah bersifat permanen atau hanya sementara. Pasalnya, di tengah Covid-19 kunjungan peserta JKN-KIS ke fasilitas kesehatan berkurang hingga 40%.

Menurutnya, manajemen BPJS Kesehatan harus mengantisipasi. Mengingat ada yang memproyeksi setelah keadaan kembali normal, maka peserta JKN-KIS yang kembali berobat membludak sehingga menyebabkan kondisi keuangan BPJS Kesehatan kembali collapse.

Baca Juga: Sejak 2016, penerimaan iuran BPJS Kesehatan meningkat dua kali lipat

"Nah ini harus ditengarai kalau nanti kemudian tidak permanen nanti ada lonjakan kunjungan, lonjakan tagihan kembali sehingga nanti finansialnya bisa goyang lagi, kita harap tidak seperti itu," ujarnya.

Catatan berikutnya, meski sudah mengalami surplus, Tulus pun melihat bahwa posisi aset bersih minus sekitar Rp 6,3 triliun, sehingga menurutnya ke depan BPJS Kesehatan harus mampu memenuhi pasal 37 PP No. 84 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Aset Jamkesmas.

Dalam aturan tersebut disebutkan bahwa kesehatan keuangan aset Dana Jaminan Sosial Kesehatan diukur berdasarkan aset bersih Dana Jaminan Sosial Kesehatan dengan ketentuan paling sedikit harus mencukupi estimasi pembayaran klaim untuk satu setengah bulan ke depan dan paling banyak sebesar estimasi pembayaran klaim untuk 6 bulan ke depan.    

Editor: Adi Wikanto