Target investasi EBT tahun 2020 terancam meleset karena corona dan masalah regulasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Situasi pandemi Corona dan belum rampungnya regulasi membuat investasi di sektor energi baru terbarukan (EBT) masih menemui hambatan sepanjang tahun ini.

Sebagai catatan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan perolehan investasi sektor EBT di tahun 2020 sebanyak US$ 2 miliar. Nilai investasi tersebut diharapkan dapat terus meningkat menjadi US$ 20 miliar hingga tahun 2024 mendatang. Hal ini guna mendorong target bauran EBT di Indonesia sebanyak 23% di tahun 2025 nanti.

Baca Juga: Catat, ini proyek hulu migas yang bakal rampung dalam waktu dekat


Berdasarkan data Kementerian ESDM, pemerintah menargetkan penambahan pembangkit EBT sebanyak 686 megawatt (MW) menjadi 10,84 gigawatt (GW) di tahun ini.

Jika dirinci, kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) ditargetkan naik 165,2 MW menjadi 6.050,7 MW di tahun ini. Kemudian, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) naik 140,1 MW menjadi 2.270,7 MW, Pembangkit Listrik Berbasis Bioenergi naik 246,9 MW menjadi 2.131,5 MW, dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) naik 116,5 menjadi 231,9 MW.

Adapun kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Bayu tetap di level 154,3 MW di tahun ini. Begitu pula dengan Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid yang tetap di level kapasitas 4 MW.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, seluruh investasi di sektor EBT yang meliputi pembangunan pembangkit listrik EBT dan infrastruktur EBT non listrik seperti biodiesel sulit mencapai target US$ 2 miliar di tahun ini. Belum cukup, kondisi investasi EBT di tahun tahun depan juga diperkirakan tidak bisa pulih 100%.

Baca Juga: Impor migas April 2020 turun 67% menjadi US$ 644,71 juta

Sebab, untuk tahun ini saja lelang-lelang proyek pembangkit oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mengalami penundaan. Bahkan, di tahun lalu tidak ada lelang proyek besar dari PLN, kecuali proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Bali berkapasitas 2x25 megawatt (MW).

Lalu, proyek-proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTMH) juga masih tertunda. “Kemungkinan investasi EBT bisa pulih di tahun 2022 dengan catatan pandemi Corona tak berlarut-larut lewat dari kuartal II-2020,” ungkap dia, Rabu (3/6).

Ia menyebut, untuk saat ini proyek EBT yang paling realistis dibangun dengan cepat adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) maupun PLTS Atap. Pasalnya, proyek ini tidak memerlukan survei terlalu lama dan masa persiapan proyeknya bisa di bawah 18 bulan. Adapun masa konstruksinya berkisar 9-12 bulan.

Editor: Handoyo .