TBS Energi Utama targetkan proyek listrik Sulbagut-1 dan Sulut-3 beroperasi 2021



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan energi terintegrasi PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), yang sebelumnya bernama PT Toba Bara Sejahtra, menargetkan bisa menyerap belanja modal (capital expenditure) sebesar US$ 150 juta-160 juta pada 2020. Belanja modal ini akan digunakan untuk menyelesaikan pembangunan pembangkit listrik Sulbagut-1 dan Sulut-3.

Pandu Sjahrir, Direktur TOBA mengatakan, belanja modal ini meningkat dibandingkan serapan pada 2019 yang mencapai US$ 134,3 juta. Mayoritas belanja modal akan dialokasikan untuk pembangunan pembangkit listrik Sulbagut-1 dan Sulut-3, terutama untuk akuisisi lahan dan pembangunan infrastruktur.

"Adapun proyek pembangkit listrik Sulbagut-1 dan Sulut-3 adalah bagian dari dukungan perseroan untuk meningkatkan ketersediaan energi dalam negeri," ujar Pandu saat paparan publik secara virtual, Rabu (21/11).


Proyek Sulbagut-1 berkapasitas 2x50 MW dan berlokasi di Gorontalo Utara. Proyek ini dijalankan oleh PT Gorontalo Listrik Perdana yang merupakan perusahaan patungan antara TOBA dengan Shanghai Electric power Construction. Nilai proyek ini diperkirakan sekitar US$ 224 juta.

Baca Juga: Dikabarkan berkongsi untuk akuisisi saham PLTU Paiton, ini komentar ADRO dan TOBA

Setelah mencapai kesepakatan finansial pada Juli 2017, proyek Sulbagut-1 saat ini berada dalam fase konstruksi. Hingga semester I-2020, perseroan sudah menyelesaikan pembangunan boiler, turbin dan generator, pemasangan cerobong asap beton. Saat in, perseroan sedang mengerjakan instalasi boiler dan uji hidro untuk boiler.

Sementara untuk proyek Sulut-3, proyek ini dijalankan oleh PT Minahasa Cahaya Lestari, perusahaan patungan antara TOBA  dengan Sinohydro Corporation Limited. Proyek berkapasitas 2x50 mw ini berlokasi di Minahasa Utara dengan estimasi biaya US$ 209 juta.

Setelah mencapai kesepakatan finansial pada Desember 2018, proyek tersebut saat ini berada dalam fase konstruksi. Hingga Juni 2020, TOBA sudah menyelesaikan 12 dari 13 shipment dan instalasi turbin dan generator. "Saat ini, perseroan sedang mengerjakan alat bantu untuk instalasi boiler, turbin dan generator serta fasilitas bantu lainnya," kata Pandu.

Untuk kedua proyek tersebut, yaitu pembangunan pembangkit listrik Sulbagut-1 dan Sulut-3 diproyeksikan sudah bisa beroperasi secara komersial pada semester I 2021.

Di luar dua proyek pembangkit listrik tersebut, TOBA juga memiliki pembangkit listrik yang dijalankan oleh PT Batu Hitam Perkasa. Perusahaan ini diakuisisi pada tahun 2018 dan memiliki 5% saham di PT Paiton Energy. Adapun Paiton Energy memiliki tiga uni pembangkit listrik dengan kapasitas 2.045 MW di Probolinggo, Jawa Timur.

Menurut Pandu, selain mengerjakan proyek Sulbagut-1 dan Sulut-3, perseroan juga terus mencari peluang untuk proyek pembangkit listrik dan tambang lainnya. Untuk proyek pembangkit listrik, perseroan akan fokus pada proyek energi terbarukan, seperti hidro, angin dan tenaga surya.

TOBA akan terus membuka opsi potensi bisnis listrik. Hal itu akan dilakukan baik secara organik dengan membangun proyek baru atau brownfield, maupun secara anorganik melalui akuisisi perusahaan atau pembangkit listrik yang sudah ada (operating assets).

Untuk bisnis listrik ini, perseroan ke depannya akan lebih fokus untuk aset atau proyek yang renewable, seperti air, angin atau solar panel. Perseroan juga akan terbuka terhadap semua kesempatan pengambangan proyek kelistrikan, mulai dari proyek greenfield, brownfield, hingga akuisisi proyek yang sudah rampung.

"Ke depannya pendapatan perseroan hampir 50% akan datang dari listrik dan pengembangan ke depan juga more and more ke downstream dan lebih ke listrik. Hal itu sejalan dengan misi perseroan untuk bertransformasi bisnis,” ujar Pandu.

Baca Juga: Emiten marak berganti nama, mulai Sierad hingga Toba Bara

Editor: Khomarul Hidayat