Tips cuan di tengah ancaman resesi global ala Lo Kheng Hong



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah faktor global memicu munculnya isu resesi beberapa waktu belakangan. Sebut saja perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, hingga terbaliknya kurva yield surat utang AS. Kondisi ini sempat membuat investor global cemas. Bisa dilihat dari pergerakan pasar saham global yang tergerus saat memanasnya perang dagang antara dua negara besar dunia. 

Namun, tidak demikian halnya dengan investor kawakan pasar saham Indonesia Lo Kheng Hong. Sebaliknya, dia tetap optimistis dengan prospek investasi di sektor saham. Lo Kheng Hong bahkan tengah gencar menaruh uangnya di pasar saham di tengah penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI). 

Baca Juga: Trending Topic: AS-China memanas, Nasihat Lo Kheng Hong


Menurutnya, saat ini, banyak saham yang 'salah harga', tapi fundamentalnya bagus.  Menurut Lo Kheng Hong, penurunan suku bunga justru membuat saham prospektif karena pergerakan harga ikut turun. 

"Hari esok itu misteri, tidak ada yang bisa memprediksi. kalau suku bunga turun, bagus untuk membeli saham," jelas Lo Kheng Hong dalam acara Capital Market Summit & Expo 2019 di Jakarta Convention Center (JCC), Jumat (23/8).  

Investor yang dikenal dengan semboyan 'membeli saham yang salah harga' tersebut menjelaskan saat suku bunga turun, justru dia sering menemukan saham salah harga tersebut. Salah harga yang dimaksud adalah harga saham yang turun mengikuti penurunan suku bunga, namun penurunan tersebut terlalu murah bila dibandingkan dengan fundamental perusahaan. 

Baca Juga: Enam inspirasi investasi saham Lo Kheng Hong, sangat mencengangkan

"Kalau bagus dan murah, under value, saya beli, ngak peduli hari esok," jelasnya. 

Investor yang dijuluki Warren Buffet Indonesia tersebut menjelaskan, valuasi saham bisa dilihat dari perbandingan antara harga saham dengan laba bersih per saham atau price earning ratio (PER) dan membandingkan harga saham dengan nilai bukunya atau price to book value ratio (PBVR). 

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie