Tren perlambatan utang luar negeri swasta berpotensi berlanjut, pemerintah sebaliknya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi utang luar negeri (ULN) swasta, termasuk BUMN, mengalami penurunan pada Agustus lalu.  

ULN swasta tercatat sebesar US$ 197,2 miliar atau tumbuh 9,3% year-on-year (yoy). Pertumbuhan utang luar negeri swasta dan BUMN ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya 12,6% yoy atau US$ 197,79 miliar.

Baca Juga: Melambat, ULN swasta tumbuh 9,3% menjadi US$ 197,2 miliar per Agustus 2019


Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adinegara memprediksi, tren melambatnya pertumbuhan ULN Swasta akan berlanjut sampai akhir tahun. 

Hal ini sejalan dengan menurunnya impor bahan baku secara konsisten yang menunjukkan kehati-hatian pelaku usaha dalam berproduksi di tengah perlambatan ekonomi saat ini, khususnya di sektor manufaktur. 

“Kelihatannya bisa saja perlambatan pertumbuhan (ULN Swasta) berlanjut karena perusahaan-perusahaan memang sedang menahan diri untuk ekspansi atau meningkatkan kapasitas produksinya,” kata Bhima, Selasa (15/10). 

Menurut Bhima, hal tersebut terlihat dari dua hal dalam laporan Statistik ULN Indonesia per Agustus lalu itu. Pertama, ULN swasta ditujukan untuk modal kerja sebesar US$ 107,21 miliar, turun dari bulan sebelumnya yang mencapai US$ 109,57 miliar.

Baca Juga: Agustus 2019, utang luar negeri pemerintah naik 8,6% jadi US$ 193,5 miliar

Kedua, ada penurunan utang dagang korporasi bukan lembaga keuangan dari sebelumnya US$ 16,03 miliar menjadi US$ 14,13 miliar pada Agustus lalu. “Utang dagang ini biasanya yang dipakai untuk membeli bahan baku untuk produksi, utang yang sifatnya lebih jangka pendek,” kata Bhima. 

Editor: Noverius Laoli