Ukraina Serukan Zona Larangan Terbang untuk Cegah Rusia, Begini Respons NATO



KONTAN.CO.ID -  BRUSSELS. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken pada hari Jumat mengatakan NATO akan mempertahankan "setiap inci" wilayah anggota tetapi menekankan aliansi itu defensif, karena menteri luar negeri menolak seruan Ukraina untuk zona larangan terbang untuk memerangi invasi Rusia.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy telah menyerukan zona larangan terbang sejak invasi Moskow dimulai pada 24 Februari, dengan Rusia menembaki kota-kota dan membawa pertempuran ke pembangkit nuklir terbesar di Eropa.

Melansir Reuters, Jumat (4/3), Ukraina bukan anggota NATO, dan anggota aliansi itu, yang menteri luar negerinya bertemu di Brussel pada hari Jumat, khawatir akan terseret ke dalam perang dengan Rusia yang bersenjata nuklir.


Baca Juga: Respons Sanksi Uni Eropa, Rusia Bahas Nasionalisasi Armada Boeing dan Airbus

"NATO akan mempertahankan semua sekutu dan wilayahnya dari serangan Rusia," kata Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken saat tiba di Brussel, yang menjadi tuan rumah markas aliansi tersebut.

"Kami adalah aliansi defensif. Kami tidak mencari konflik. Tetapi jika konflik datang kepada kami, kami siap untuk itu dan kami akan mempertahankan setiap inci wilayah NATO."

Kepala NATO menggemakan kecaman Blinken atas serangan Rusia terhadap warga sipil di Ukraina, bekas republik Soviet dan satelit Moskow yang ingin bergabung dengan Uni Eropa serta aliansi militer Barat.

Pihak berwenang Ukraina mengatakan pada hari Jumat bahwa pasukan Rusia merebut pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di Eropa setelah sebuah bangunan di kompleks Zaporizhzhia dibakar selama pertempuran sengit.

Baca Juga: Biden Bertemu Pemimpin Finlandia Bahas Perang Rusia vs Ukraina

"Ini hanya menunjukkan kecerobohan perang ini dan pentingnya mengakhirinya dan pentingnya Rusia menarik semua pasukannya," kata Sekretaris Jenderal Jens Stoltenberg.

Sementara beberapa negara menunjukkan kesediaan untuk membahas zona larangan terbang, mereka menjelaskan bahwa mereka tidak menganggapnya sebagai pilihan yang layak.

Editor: Noverius Laoli