KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Unilever Indonesia Tbk (
UNVR) mulai mencatatkan pertumbuhan penjualan seiring peningkatan volume, tetapi kenaikan biaya bahan baku masih menekan margin dan profitabilitas perseroan. Fokus pada bisnis Home & Personal Care (HPC) menjadi salah satu andalan untuk memperkuat daya saing dan memulihkan pertumbuhan laba setelah UNVR keluar dari bisnis es krim dan teh. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, penjualan UNVR tumbuh 7,2% secara tahunan menjadi Rp 25,75 triliun. Pada periode yang sama, laba bersih meningkat 26% menjadi Rp 4,2 triliun.
Namun, kenaikan laba tersebut turut ditopang keuntungan Rp 870 miliar dari operasi yang dihentikan. Tanpa memperhitungkan keuntungan tersebut, pertumbuhan laba dari operasi berkelanjutan tercatat sekitar 10,6%.
Baca Juga: Laba Unilever Indonesia (UNVR) Melesat 25,96% di Kuartal III, Cek Rekomendasi Analis Di sisi lain, beban pokok penjualan meningkat sekitar 15%. Kondisi ini menekan margin kotor UNVR menjadi 45,1% dari 48,9% pada periode yang sama tahun lalu. Tekanan berlanjut pada kuartal III-2026. Berdasarkan riset Maybank Sekuritas Indonesia pada 23 Oktober 2026, penjualan UNVR mencapai Rp 8,85 triliun, tumbuh sekitar 7% secara tahunan. Namun, laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) turun 4% menjadi Rp 1,4 triliun. Margin kotor pada kuartal III-2026 juga menyusut menjadi 42,3%, dibandingkan 50% pada periode yang sama tahun lalu dan 45% pada kuartal II-2026. Kenaikan harga minyak sawit dan minyak mentah turut menambah tekanan biaya produksi. Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi menilai, tantangan utama UNVR adalah menjaga pertumbuhan penjualan sekaligus memperbaiki margin di tengah pelemahan rupiah dan kenaikan harga bahan baku.
Baca Juga: Laba Unilever Indonesia (UNVR) Naik 37,7%, Analis Sebut Momentum Pemulihan Berlanjut “Penentu pemulihan UNVR ke depan adalah perbaikan margin di tengah pelemahan rupiah dan kenaikan harga bahan baku,” ujar Abida kepada Kontan, Rabu (28/10/2026).
Fokus HPC Jadi Penopang Pertumbuhan
Di tengah tekanan margin, volume penjualan masih menjadi penopang kinerja UNVR. Analis Maybank Sekuritas Indonesia Willy Goutama mencatat, volume penjualan pada kuartal III-2026 tumbuh 6,4% secara tahunan, sementara harga jual rata-rata hanya naik sekitar 0,9%. Artinya, pertumbuhan penjualan lebih banyak berasal dari peningkatan volume dibandingkan kenaikan harga. Segmen HPC menjadi kontributor utama dengan penjualan Rp 6,6 triliun pada kuartal III-2026, tumbuh 9% secara tahunan. Segmen ini menyumbang sekitar 73% terhadap total penjualan UNVR selama sembilan bulan pertama 2026.
Pertumbuhan HPC ditopang inovasi produk, penyesuaian harga, serta pengembangan saluran distribusi.
UNVR menaikkan harga sejumlah merek sekitar 5% pada Juni 2026 dan kembali melakukan penyesuaian sekitar 5% pada Agustus 2026. Perseroan juga memperluas penjualan melalui kanal daring serta toko spesialis kesehatan dan kecantikan.
Baca Juga: Laba Unilever Indonesia(UNVR) Melesat 37,7% Jadi Rp 2,97 Triliun pada Semester I-2026 Meski demikian, Willy menilai pemulihan daya saing dan keluarnya UNVR dari bisnis es krim serta teh menjadi tantangan untuk mengembalikan laba ke tingkat sebelum pandemi. Menurut dia, proses pemulihan bisnis tersebut berpotensi menghambat pencapaian kembali laba sebelum pandemi, yang sebelumnya berada di atas Rp 7 triliun.