Volatilitas pasar tinggi, reksadana pasar uang dinilai masih menarik untuk dilirik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dalam satu semester ini, reksadana pasar uang menjadi reksadana dengan kinerja jawara di antara reksadana lainnya. Hal ini terlihat dari catatan kinerja Infovesta 90 Money Market Fund Index yang mencatat pertumbuhan 1,68%. 

Kinerja tersebut lebih baik dibandingkan dengan reksadana pendapatan tetap (0,63%), kinerja reksadana campuran (-3,74%), dan reksadana saham (-9,27%).

Menurut Head of Fixed Income Trimegah Asset Management Darma Yudha, kondisi ekonomi yang masih buka tutup mempengaruhi harga pergerakan pasar obligasi dan pasar saham Indonesia, karena itu merefleksikan ekonomi.


Baca Juga: Reksadana pasar uang diproyeksi masih akan tumbuh positif sampai akhir tahun

Menurut Darma, pasar uang itu time deposite underlying-nya, dan pasar obligasi negara yang kurang dari satu taun. “Jadi relatif fluktuasi harganya tidak terlalu tinggi, itu yang menyebabkan return dari reksadana pasar uang cenderung stabil. Ditambah juga saat ini merupakan alternatif investasi yang baik,” kata Darma.

Selain itu, ia juga melihat bahwa kondisi saat ini di tengah penurunan suku bunga, dan pembandingnya yaitu suku bunga deposito cenderung turun, karena suku bunga acuan yang turun. Hal ini ditambah dengan likuiditas perbankan yang berlimpah membuat reksadana pasar uang stabil.

Darma juga melihat bahwa reksadana pasar uang di Indonesia masih bertumbuh, misalnya saja dana kelolaan reksadana yang ia kelola di TRIM KAS 2 yang masih mengalami pertumbuhan dari segi dana kelolaannya.

Hingga akhir tahun ia melihat masih menarik untuk berinvestasi di reksadana pasar uang, karena kondisi yang masih tidak pasti, terutama karena kasus Covid-19 di tanah air yang masih merebak.

Baca Juga: Dana kelolaan industri reksadana stagnan di Rp 536 trilliun per Juni

“Sekarang risk off dulu, sedangkan likuiditas berlimpah. Uang itu akan mengalir ke tempat yang return lebih tinggi, dengan risiko yang relatif lebih terjaga, saya rasa reksadana pasar uang tetap menarik, karena di deposito bunganya lebih rendah daripada reksadana,” katanya.

Walaupun begitu, Darma menyarankan untuk tetap berhati-hati, dalam memilih reksadana pasar uang, walaupun risiko dari volatilitas yang rendah, menurutnya yang berbahaya saat ini apabila terjadi default, karena kondisi ekonomi yang cukup berat.

Editor: Tendi Mahadi