Wamendag ajak Bank BRI gerakkan Sistem Resi Gudang (SRG)



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pembiayaan adalah salah satu tantangan semua sektor di Indonesia, tak terkecuali Sistem Resi Gudang (SRG). Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah membangun hampir 200 SRG yang diharapkan mampu menjadi penyangga ketersediaan kebutuhan masyarakat dan kebutuhan penting maupun strategis lainnya. 

Beberapa dari SRG masih belum berfungsi sebagai mana mestinya karena masalah pembiayaan. Karena itu, Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga beberapa waktu terakhir rajin menghubungi sektor perbankan agar bisa berkolaborasi mengembangkan SRG.

Salah satu yang diajak berkolaborasi adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI). Menurut Jerry, bidang bisnis BRI sangat berkaitan erat dengan SRG, khususnya di sektor pertanian, peternakan dan kegiatan ekonomi rakyat lainnya. 


“Tentu tidak membatasi hanya BRI saja, semua bank yang berminat tentu akan diterima. Tetapi BRI memang sudah lama terjun dalam pembiayaan ekonomi rakyat dan UMKM. SRG ini banyak bersentuhan dengan bidang bisnis BRI, jadi akan sangat baik kalau kita berkolaborasi,” kata Jerry dalam keterangannya, Sabtu (27/2). 

Baca Juga: Kliring Berjangka optimistis pembiayaan resi gudang tahun ini naik 50%

SRG banyak bersentuhan dengan ekonomi kerakyatan. Dalam fungsinya sebagai penyokong ketersediaan bahan pokok dan keterjangkauan harga, SRG menggarap beberapa komoditas penting seperti bawang merah, cabai, beras, daging ayam, dan lain-lain.

Fungsinya menggantikan peran tengkulak. Dari produsen misalnya petani atau peternak, bahan pokok dibeli oleh pengelola SRG dengan harga yang baik. SRG mengelola sistem logistik bahan pokok itu agar harganya tidak jatuh saat panen raya dan naik tinggi saat sedang musim tanam.

“Jadi SRG ini fungsinya sangat penting di semua layer. Bagi produsen, ini bisa membantu mereka mendapatkan harga yang wajar, tidak fluktuatif dan tidak dipermainkan oleh tengkulak. Dari mata rantai pasokan ini menjamin ketersediaan barang dan keterjangkauan harga. Bagi ekonomi nasional fungsinya lebih banyak lagi,” tambah Wamendag.

Mengingat pentingnya fungsi SRG itu, Kemendag berupaya agar semua SRG yang ada bisa berfungsi. Untuk itu, SRG harus bisa bukan saja memenuhi fungsi sosial tetapi juga fungsi bisnis.

Menurut Wamendag, tidak bsia dipungkiri bahwa memang harus ada sisi bisnis, tetapi ini bisnis sosial, semacam social entrepreneurship untuk menyelesaikan masalah masyarakat dan masalah kita bersama. Jadi harus imbang antara keduanya sehingga bisa berjalan secara berkelanjutan dan menguntungkan semua pihak.

Baca Juga: Lakukan refocusing, anggaran Kemendag jadi Rp 2,93 triliun untuk tahun 2021

Editor: Noverius Laoli