Warren Buffett pegang uang tunai sebesar Rp 1.820 triliun, begini reaksi investor



KONTAN.CO.ID - CEO Berkshire Hathaway Warren Buffett memilih memegang uang tunai hampir sebesar US$ 130 miliar atau setara Rp 1.820 triliun (kurs Rp 14.000). Akibatnya, uang tunai sebesar itu menjadi menganggur. Kendati begitu, pemegang saham Berkshire Hathaway ini tidak frustrasi atas kebutuhan Buffett tersebut. 

Mereka berpikir bahwa Buffett mungkin memiliki satu alasan yang sangat bagus untuk terus memegang sejumlah besar uang. Buffett ingin penggantinya dikapitalisasi dengan sangat baik dan investor diyakinkan adanya uang tunai yang besar.

"Kami tidak frustrasi karena kami telah memilikinya selama beberapa dekade dan telah menghasilkan banyak uang," ujar Bill Smead dari Smead Capital Management di The First Trade, seperti dikutip dari Yahoo Finance, Kamis (12/12).


Baca Juga: Bill Gates bisa tidur setidaknya 7 jam sehari setelah membaca buku ini

Smead melanjutkan, Buffett memang agak frustrasi karena dia memegang uang tunai begitu banyak, tetapi para pemegang saham Berkshire Hathaway percaya Buffett memegang uang tunai begitu banyak karena alasan tertentu. Justru mereka khawatir bila dua pemimpin Berkshire Hathaway yakni Buffett, 89 tahun, dan wakilnya Charlie Munger, 95 tahun, jatuh sakit. 

Smead merujuk reaksi saham Berkshire ketika Buffett mengungkapkan dia telah didiagnosis kanker prostat tahap 1 pada 17 April 2012 sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor.

Kala itu, saham kelas A dan B Bershire turun sekitar 2% dari 17 April hingga 23 April, tertinggal dari indeks S&P 500 dengan persentase poin penuh, menurut data Yahoo Finance Premium. Namun saham itu menguat sekitar 12% hingga akhir tahun karena Buffett meyakinkan para investor bahwa kanker itu tidak mengancam jiwanya.

Baca Juga: Bagaimana Warren Buffett memilih sahamnya?

Namun tetap saja, berita itu menjadi ketakutan bagi para investor Berkshire seperti Smead, yang selama beberapa dekade telah menghasilkan uang di balik panggilan saham yang berfokus pada nilai Buffett dan akuisisi yang menjadi berita utama.

Editor: Noverius Laoli