Waspadalah, kejahatan siber masih mengancam nasabah bank



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perbankan terus berlomba berinovasi sebagai adaptasi atas perubahan di tengah perkembangan teknologi. Solusi layanan digital kian digali untuk memberi kemudahan bagi nasabah bertransaksi. Kemudahan sudah jadi kunci bagi bank agar bisa bertahan dalam kompetisi.

Lantas, layanan transaksi pun serba online saat ini. Boleh dibilang semua layanan keuangan bisa dilakukan hanya lewat gawai. Namun diantara kepraktisan yang kita dapat, konsekuensi kejahatan siber juga kian mengancam.

Baca Juga: Bank BRI telah mengganti dana nasabahnya yang kena skimming Rp 80 juta


Lalu sudah sesiap apa bank di tanah air menghadapi ancaman siber dan melindungi data nasabahnya?

Baru-baru ini, kasus dugaan pembobolan rekening digital nasabah Bank BTPN viral di media sosial. Pengguna instragram lewat akun @Wisnukumoro mengaku isi rekeningnya di Jenius raib pada 29 Agustus 2019 yang ia duga akibat ulah peretas.

Pembobolan diketahui berawal dari pesan masuk ke ponselnya berisi kode verifikasi untuk masuk ke akun. Permintaan lantas ia tolak. Merasa curiga, akun kemudian ia blokir tetapi tidak berhasil. Si peretas tetap bisa masuk dan menguras habis isi rekening secara bertahap.

Bank BTPN mengaku tengah melakukan investigasi mendalam atas kasus yang dialami nasabahnya itu. "Indikasi penyalahgunaan data oleh pihak yang tidak bertanggung jawab itu akan jadi perhatian utama kami," kata Irwan S. Tisnabudi, Head of Digital Banking Bank BTPN dalam keterangannya pada Kontan.co.id baru-baru ini.

Pakar IT, Abimanyu Wachjoewidajat menyebut, layanan digital bank memang sangat terbuka pada resiko pembobolan. Menurutnya, kasus peretasan bukan hanya terjadi karena kesalahan bank itu sendiri. Bisa jadi juga karena kesalahan mitra bank yang bersangkutan dan keteledoran dari nasabah.

Baca Juga: Begini langkah BNI berpartisipasi dalam layanan perbankan di Morotai

Kesalahan bank bisa dilihat dari seberapa kuat dia menjalankan standar operasional prosedur (SOP). Jika SOP lemah maka percuma saja bank berinvestasi besar-besaran dalam sistem IT, kejahatan siber tetap akan mudah terjadi.

"Ibarat rumah, punya gerbang dan pintu yang kokoh, tapi cuma dikasih satu gembok dan kuncinya ditinggal pula di luar, jangankan maling, kucing aja bisa gampang masuk." jelas Abimanyu.

Keamanan sistem IT mitra bank untuk layanan clearing juga perlu diperhatikan. Meski bank punya sistem yang kuat dan SOP dijalankan dengan benar, tetap bisa terjadi pembobolan jika integrasi atau penyambung antar bank tidak secure.

Editor: Tendi Mahadi