KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Cadangan devisa Indonesia dinilai masih cukup kuat untuk menjadi bantalan menghadapi tekanan eksternal dan pelemahan nilai tukar rupiah. Namun risiko penurunannya berpotensi meningkat apabila nilai tukar rupiah terus melemah hingga menembus level Rp 18.500 per dolar Amerika Serikat (AS). Pasalnya, kondisi tersebut dapat memaksa Bank Indonesia (BI) menggelontorkan lebih banyak devisa untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
Baca Juga: Rupiah Masih Rentan, Berisiko Tembus Rp 19.000 per Dolar AS di Akhir Juni 2026 BI mengumumkan posisi cadangan devisa Indonesia sebesar US$ 144,9 miliar hingga akhir Mei 2026. Jumlah tersebut turun US$ 1,3 miliar dibandingkan posisi akhir April 2026 yang mencapai US$ 146,2 miliar. Secara
year to date (Ytd), posisi cadangan devisa juga sudah ambles US$ 11,6 miliar dibandingkan posisi Desember 2025 sebesar US$ 156,5 miliar. Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede mengatakan, posisi cadangan devisa Indonesia saat ini masih berada pada level yang relatif aman. Per akhir Mei 2026, cadangan devisa setara sekitar 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, atau masih berada di atas ketentuan batas aman standar international yang minimal sebesar tiga bulan impor. Meski demikian, Josua mengingatkan risiko terhadap cadangan devisa akan meningkat apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut dan bergerak melewati level Rp 18.500 per dolar AS secara berkelanjutan.
Baca Juga: Rupiah Tembus 18.000 per Dolar AS, Ini Pemicu Utama Pelemahannya "Risiko cadangan devisa akan lebih besar apabila rupiah melemah melewati Rp 18.500 per dolar AS secara berkelanjutan. Dalam kondisi tersebut, tekanan psikologis pasar bisa meningkat, kebutuhan intervensi Bank Indonesia bisa lebih besar, dan cadangan devisa berpotensi turun lebih cepat," ujar Josua kepada Kontan, Senin (8/6/2026). Menurutnya, tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Dari sisi global, sentimen berasal dari ketegangan geopolitik, tingginya harga minyak dunia, imbal hasil aset Amerika Serikat yang masih menarik, serta kecenderungan investor global mengurangi eksposur terhadap aset negara berkembang. Sementara dari dalam negeri, pasar masih mencermati perkembangan defisit fiskal, kualitas belanja pemerintah, konsistensi kebijakan ekonomi, hingga arus keluar modal asing dari pasar saham dan obligasi. Dalam skenario dasar, Josua memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.200 per dolar AS hingga akhir tahun. Namun apabila tekanan global dan domestik memburuk, rupiah berpotensi menguji level Rp 18.300 hingga Rp 18.500 per dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Pertama Kali Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Terus Melemah ke Rp 18.029 Meski demikian, ia menilai pelemahan rupiah saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia. Dengan inflasi yang masih terkendali, surplus perdagangan yang tetap terjaga, pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat, serta cadangan devisa yang masih memadai, nilai wajar rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp 17.000 hingga Rp 17.500 per dolar AS. "Pasar saat ini tidak hanya menghitung fundamental, tetapi juga memasukkan premi risiko akibat ketidakpastian kebijakan, tekanan fiskal, dan arus modal. Karena itu, nilai pasar rupiah bergerak lebih lemah dibanding nilai wajarnya," kata Josua.