Wow, BKKBN menghitung potensi kehamilan di masa pandemi Covid-19 capai 500.000



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo menyampaikan bahwa ada penurunan peserta program keluarga berencana (KB) aktif pada April 2020.

Setiap bulannya Hasto menyebut ada peningkatan peserta KB aktif. Namun, lantaran pandemi Covid-19, ada beberapa alasan menurunnya peserta KB.

Pertama, kekhawatiran yang akhirnya membuat pasangan mengurungkan diri untuk mendatangi fasilitas kesehatan guna mengikuti program KB. Kemudian adanya pembatasan penerimaan pasien dan jam buka di fasilitas kesehatan, klinik, atau bidan terkait aturan physical distancing selama masa pandemi.


Baca Juga: BKKBN: Lebih dari 400 ribu kehamilan baru selama pandemi covid-19 di Indonesia

Bulan April terjadi penurunan peserta atau akseptor aktif 10% dibanding bulan sebelumnya. April tercatat ada sekitar 26 juta peserta KB aktif, dimana bulan Maret 36 juta akseptor.

"KB aktif per bulan 36 juta, April turun banyak. Penurunan antar provinsi rata-rata 10%-15% dari akseptor sebelumnya," jelas Hasto saat webinar ‘Urgensi Pelayanan KB Pada Masa New Normal’ Selasa (9/6).

Dari data tersebut, ia menghitung ada sekitar 10 juta pasangan tak menggunakan alat kontrasepsi pada masa pandemi. Dari total angka tersebut, sekitar 25% merupakan Pasangan Usia Subur (PUS) yang berusia 20 tahun-35 tahun atau sekitar 2,5 juta PUS.

"Bisa kita lihat kalau sampai putus suntik misal di bulan pertama kemungkinan 10% hamil, IUD putus maka bisa 15%, pil putus sebulan pertama 20% kemungkinan hamil," jelasnya.

Dengan persentase kehamilan PUS diambil paling rendah yaitu 15%-20%, maka Hasto menyebut ada penambahan angka kehamilan sekitar 370.000 sampai 500.000.

Editor: Herlina Kartika Dewi