KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah pandemi corona virus (Covid-19) yang memukul banyak sektor usaha, dibutuhkan nyali berlapis dan kecermatan dalam mengambil keputusan. Pasalnya, bila hitung-hitungan bisnisnya meleset sedikit saja maka sudah bisa dipastikan keberlangsungan perusahaan terancam gulung tikar. PT Aesler Grup Internasional Tbk pun mengambil keputusan besar di tengah pandemi ini. Perusahaan yang bergerak di bidang arsitektur itu justru dengan berani menggelar Initial Public Offering (IPO) dan resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan kode emiten RONY pada 9 Maret 2020. Baca Juga: Menilik prospek 24 perusahaan yang mencatatkan sahamnya di BEI sepanjang 2020
Presiden Direktur Aesler Group International Jang Rony Yuwono mengatakan, aksi korporasi Aesler dengan melantai di bursa hari ini mendapat respon cukup baik dari masyarakat. Terbukti, antusiasme investor saat pembelian saham pada perdagangan hari pertama mengalami kenaikan sebesar 35%, bahkan mencapai batas auto reject yang ditetapkan oleh BEI. "Orang bijak bilang, badai pasti berlalu. Karena itu, masyarakat harus tetap optimis dan kita harus berani mengucapkan bye bye (selamat tinggal) pada Covid-19. Kini saatnya kembali menjalankan bisnis secara agresif guna menyongsong kebangkitan pasar,” kata Rony dalam keterangan resminya dikutip Jumat (10/4). Aesler merupakan perusahaan arsitektur pertama yang mencatatkan sahamnya di BEI. Setelah IPO ini, kepemilikan PT Nakula Investama Indonesia pada Aesler Grup Internasional akan menyusut dari 55% menjadi 44%. Sementara itu, kepemilikan Jang Rony berkurang dari 45% menjadi 36%.